Selasa, 17 Mei 2016

ETOS DAN ETIKA KERJA ORANG MELAYU



A.    Etos dan Etika Kerja Melayu
            Usaha kita untuk maju, yang selalu akrab dengan kosa kata Pembangunan, apapun bentuknya akan berhasil dengan baik apabila seluruh lapisan masyarakat turut berpartisipasi. Salah satu motivasi yang mampu mendorong mereka untuk meningkatkan keikutsertaan dan kreativitasnya, adalah Etos (semangat) kerja yang dimiliki. Semakin tinggi etos kerja yang mereka miliki, hayati, dan amalkan, semakin tinggi pula gairah kerjanya. Sebaliknya, masyarakat yang tidak memiliki etos kerja, apalagi tidak menghayatinya, tentulah semangat dan minat kerjanya tidak mampu menandingi kaum yang memiliki etos kerja yang tinggi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:237), Etos Kerja adalah pandangan hidup yang khas suatu golongan sosial yang didasarkan kepada sifat, nilai adat-istiadat yang memberi watak dalam masyarakat. Secara etimologi dan maknawi, kat etos berasal dari bahasa yunani dari kata Ethos yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Etos tidak hanya dimiliki oleh individu, kelompok, masyarakat bahkan bangsa.
Dalam pengamalannya di masyarakat, etos kerja selalu disandingkan dengan kata etika kerja. Dalam kehidupan orang melayu, etos dan etika kerja mereka telah diwariskan oleh orang tua-tua secara turun-temurun. Setidaknya, masyarakat Melayu dahulu kala memiliki eos kerja (yang lazim disebut Semangat Kerja) yang tinggi. Yang mampu mengangkat harkat dan martabat kaumnya untuk “duduk sama rendah dan tegak sama tinggi”  dengan masyarakat dan bangsa lainnya. Sedangkan etika kerja (yang lazim disebut dengan Pedoman Kerja) Melayu, diakui dengan banyak ahli sangat ideal karena didasarkan kepada etika kerja universal, terutama didunia islam. Dengan modal tersebut sehingga mereka mampu membangun negeri dan kampung halaman, mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat dan mampu menghadapi persaingan, cabaran, dan sebagainya dengan pihak luar yang terus terjadi sepanjang masa. Perbedaannya hanya bentuk dan cara, hakikatnya selalu sama, yaitu persaingan untuk menang dan hidup lebih bermutu dan maju.
Orang tua-tua mengatakan, “Berat tulang, ringanlah perut” maksudnya, orang yang malas bekerja hidupnya akan melarat. Sebaliknya, “Ringan Tulang, Beratlah Perut” yang berarti siapa yang bekerja keras, hidupnya akan tenang berkecukupan.
            Didalam untaian ungkapan dikatakan:
Kalau hendak menjadi orang
Rajin-rajin membanting tulang
Manfaatkan umur sebelum petang
Pahit  dan getir usaha dipantang 

Kalau hendak menjadi manusia
Ringankan tulang habiskan daya
Kerja yang berat usah dikira
Pahit dan manis supaya dirasa

Kalau tak mau mendapat malu
Ingatlah pesan ayah dan ibu
Bekerja jangan tunggu-menunggu
Manfaatkan hidup sebelum layu

Ungkapan diatas, dahulu disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat, dijabarkan, diuraikan dan dihayati secara keseluruhan oleh anggota masyarakat. Penyebarluasan ungkapan tersebut melalui beberapa cara seperti cerita-cerita nasehat, upacara-upacara adat, nyanyianrakyat dll. Hal ini menumbuhkan semangat kerja yang tinggi, sehingga setiap anggota masyarakat mencari dan memanfaatkan setiap peluang yang ada, bahkan mampu pula menciptakan peluang-peluang barusesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.
Dalam adat Melayu, adat yang banyak menyerap nilai-nilai agama Islam, terdapat ungkapan “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah”. Menurut paham ini orang yang tidak bekerja, apalagi yang sengaja tidak mau bekerja, dianggap melalaikan kewajiban, melupakan tanggung jawab, memunafikkan ajaran agama dan tuntunan adat-istiadat serta mengabaikan tunjuk ajar yang banyak memberi petuah amanah tentang Etos kerja. Sikap malas dan lalai, dianggap sikap tercela, yang disebut “tak ingat hidup akan mati, tak ingat hutang yang disandang, tak ingat beban yang dipikul”. Oleh karenanya, orang pemalas inidirendahkan oleh masyarakat. Itu sebabnya orang tua-tua mengatakan:
Kalau malu direndahkan orang
Bantinglah tulang pagi dan petang
Bekerja jangan lang kepalang
Gunakan akal mencari peluang

Kalau malu hidup terhina
Dalam bekerja jangan berlengah
Manfaatkan peluang mana yang  ada
Pukalkan hati lapangkan dada

Kalau tak mau hidup melarat
Carilah kerja bercepat-cepat
Jangan dikira ringan dan berat
Asal sesuai dengan syariat

Orang tua-tua juga mengingatkan, bahwa dalam mencari peluang kerja, jangan memilih-milih. Maksudnya jangan mencari kerja yang senang, tak mau bekerja berat. Itu bukanlah sikap orang Melayuyang inggin maju. Kerja yang perlu dipilih adalah kerja itu jangan  “menyalah”, maksudnya jangan menyimpang dari ajaran agama dan adat-istiadat.  Sesuai dengan pepatah-petitih  kita “kalau kerja sudah menyalah, dunia akhirat aib terdedah”.
Keutamaan kerja, tercermin pula dalam memilih menantu atau jodoh. Orang tidak bekerja, lazimnya dianggap belum mampu “menghidupkan anak bininya”. Orang seperti ini seharusnya dielakkan, tidak akan dipilih menjadi menantu atau jodoh anaknya. Beberapa contoh diatas memberikan petunjuk betapa orang Melayu sudah menanamkan nilai  Etos Kerjadalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar